Postingan

Pesan ini

Gambar
Mungkin Pesan ini tak pernah kau baca Bahkan mungkin sengaja tidak kau baca Tapi aku yakin pesan ini tesampaikan Aku percaya hati telah memberi makna Bisa saja kau pura-pura tak tahu Boleh saja kau terus acuh tak acuh Tapi tidak untuk hatimu Kau akan rasa dibalik hatimu yang taguh Tiada yang dapat menduga masa depan Tiada juga hati seseorang dapat diterka Siapa yang tahu balik senyum manis itu Siapa yang tahu janji mana yang palsu Jalan panjang dari pasti berujung Meski serasa duka tiada berujung Masa-masa indah tak bisa kekal Begitupun kepahitan tak pernah abadi Setiap rasa ada yang mencipta Setiap cipta tekandung makna Tiada perjalanan yang pernah sia-sia Tuhan mengajarkan cara menikmatinya Ayat-ayat itu tak kan lekang oleh waktu Meski terkadang hilang dari akal ku Titahnya akan abadi sepanjang waktu Tiada mungkin setiap hati dustakan itu

Record 125K Jalan dari UMS hingga NAPSA UNIMUS MIJEN SEMARANG

Gambar
Surakarta, 11 Oktober 2017 oleh: 1.M. Abdurahman, 2.Sultoni, 3.Afif Alghifari, 4.Jarwa, 5.Ulfiatun Nairoh, 6.Rosikhoh Risydannisa, 7.Khoerul Nisa,8.Ahmad Khoirul. Sebuah catatan sederhana yang menyimpan banyak makna tentang arti sebuah perjuangan dalam pendidikan:  https://drive.google.com/open?id=18iGwOW2WZkDiiXE9wuQAHB2VKqdV2FDn    

Kenangan

Jalan Depan kost malam Jalan Depan kost mu Ku datang dan menunggu Seorang bidadari merajai hati Tentangnya Tak pernah Sirna Meski ribuan gadis datang menyapa Kau turun membuka pintu kostmu Entah Bagaimana pintu hatimu Senyum merekah di bibir yg merah Pengobat rindu hati nan resah Ku sambut tanganmu yang lembut Malam Ini sikapmu begitu lembut  Harum aroma perfume Tak hilang  Hingga ku pulang Masih terbayang Antok Janaka Surakarta, 24 mei 2017

Tak perlu risau

Aku yang berserah Aku yang berserah atas Ridho Mu Ku pastikan ini bukan putus asa Aku berdoa'a memohon Aku berikhtiar sepenuh jiwa raga Jika Engkau Ridho  Tak siapapun akan memberi batas Aku yang berserah kepada Mu Tuntunlah aku selalu di jalan Mu  Ya Allah. Surakarta, 17 ramadan 1438 H Rinanto

Jawaban segala risau

Karena apa Engkau bertemu Karena Apa Engkau Bertemu Jika Engkau bertemu karena Allah Berpisahlah Engkau karena Allah  Jika Engkau bertemu karena dunia Maka Engkau akan kecewa karenanya Dunia dan kehidupan Diciptakan atas keadilan Allah Ada siang ada malam Ada bahagia ada sedih Ketawa dan air mata tak ubahnya Jangan disesalkan Jangan larut dalam kecewa Lihatlah.... Allah masih bersamamu Menangis cukup sekadarnya Kecewa tak boleh nelangsa Bersyukurlah agar diberkati Percayalah... Allah akan mengabulkan do'a kita.  Jogjakarta, 16 Ramadan 1438 H Rinanto

Istri dadakan

Istri Dadakan KH. Ali Yahya Lasem terkenal tampan, berbadan tegap dan atletis. Bila sarung, sorban, dan kopiahnya dibuka beliau mirip bule Eropa, Amerika atau Australia. Tak heran kalau banyak wanita terpesona. Suatu hari beliau ada undangan mengisi pengajian di Jepara, saat di perjalanan mobil yang beliau tumpangi berhenti di sebuah lampu merah. Saat itu beliau duduk di samping sopir dengan melepas sorban dan kopiah yang dipakainya. Tiba-tiba seorang wanita muda, menor, dan seksi menghampirinya. Wanita penghibur itu mengira bila lelaki gagah dalam mobil adalah turis banyak duit yang sedang mencari kesenangan di Indonesia. “Malam, Om.” “Malam.” “Ikut dong, Om. Boleh, ya?” “Oh, boleh, boleh. Silakan masuk.” Wanita muda itu bergegas masuk mobil. Pintu ditutup dan mobil mulai jalan. “Mau ke mana, Om? Butuh aku, gak? Aku temenin sampai pagi ya, Om?” Sambil pakai lagi kopiah dan sorban Kiyai Ali santai menjawab, “Oo,...

Indonesia siapa yang punya?

Pengorbanan Islam utk Pancasila dan Kebhinekaan. *INDONESIA SIAPA PUNYA?* Oleh : Dr. H. Haedar Nashir, M.Si.  Siapa sesungguhnya pemilik Indonesia? Di negeri ini, tentu tak satu pihak mana pun berhak menepuk dada sebagai paling berdarah Merah Putih. Mengklaim diri sebagai pewaris dan penjaga utama Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, dan UUD 1945. Indonesia milik semua untuk semua. Sangat gegabah jika ada orang menyatakan, bahwa Indonesia belum teruji kebhinekaannya jika minoritas belum menjadi seorang Presiden. Lebih-lebih ketika ujaran itu diungkapkan dengan nada angkuh, seolah ukuran keindonesiaan ialah kedigdayaan diri dalam singgasana kuasa. Sebuah kesombongan yang dapat menjadi duri tajam di tubuh negeri ini. Manakala ada segelintir orang ingin menguasai Indonesia dengan hasrat kuasa berlebih. Ingatlah pesan Bung Karno, "Negara Republik Indonesia ini bukan milik suatu golongan, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-i...